Siswa Berprestasi Raih Beasiswa Komunitas Makgradak

Bayangkan, apa jadinya bila Anda sangat ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, namun kondisi ekonomi orang tua Anda tak memungkinkan untuk itu? Sedih, putus asa, dan entah apa lagi yang bakal Anda rasakan.

“Pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara yang harus ditunaikan demi tercapainya Indonesia yang bermartabat”

Di negeri yang kita cintai ini, masih banyak anak-anak mengalami hal itu. Nyata, bukan sekadar imajinasi seperti yang baru saja Anda lakukan. Pemerintah memang telah cukup memerhatikan mimpi dan juga potensi anak-anak itu. Tak sedikit dana telah dialokasikan khusus untuk pemenuhan hak pendidikan. Sebut saja, BOS, DAK, PKH, dan PNPM. Masih banyak lagi yang lainnya; termasuk dana kemitraan untuk beasiswa dan lain-lain. Di sisi lain, pemerintah juga telah banyak menerbitkan regulasi pendukung. Ambil contoh, Permendikbud No. 60 Tahun 2011 tentang Larangan Pungutan Biaya Pendidikan pada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama dan PP No. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan.

Perwakilan Komunitas Makgradak sedang menyimak penjelasan pihak sekolah

Berdasarkan regulasi yang berlaku, sekolah pelaksana program wajib belajar tak boleh membebankan biaya operasional dan biaya investasi—kita mengenalnya sebagai uang gedung—kepada peserta didik, orang tua, atau walinya. Pemerintah yang berkewajiban menyediakan layanan pendidikan secara bebas biaya. Tentu saja, ketentuan bebas biaya ini berlaku untuk pendidikan sesuai dengan standar pelayanan minimum. Namun dengannya, biaya pendidikan tak serta merta menjadi nihil. Biaya pribadi, biaya yang tak langsung memengaruhi kegiatan belajar dan mengajar, seperti seragam, trasportasi, dan study tour, masih harus dipenuhi secara mandiri.

Perwakilan Sekolah (Dari kiri: perwakilan guru, wali kelas VI, kepala sekolah)

Beberapa warga secara tak resmi menyampaikan bahwa biaya lain-lain yang masih harus mereka tanggung tak sedikit jumlahnya. Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) memang telah dihapuskan, namun biaya lainnya semakin membengkak. Untuk bersekolah di SMP tertentu dikenakan biaya rerata Rp1 juta. Hal ini tentu tak mudah bagi sebagian warga.

Berangkat dari kenyataan tersebut, pada 4 April 2015, Komunitas Makgradak kembali mengadakan kegiatan peduli dunia pendidikan. Dalam rangka menuntaskan target, kegiatan Komunitas Makgradak Peduli Pendidikan kembali diselenggarakan di SDN Rowotamtu 02, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember. Hadir dalam kegiatan kali ini adalah Ketua Komunitas Makgradak Wahyu Tri Julianto, S.S., Masyitotun Najah, A.Md. (Bendahara), Angky Bayu Putrantyo, S.S., Ratih Setya Rahayu, S.S., dan Febrie G. Setiaputra. Perwakilan Komunitas Makgradak tersebut diterima oleh Tutik, salah seorang guru, wali kelas VI, dan kepala sekolah.

Perwakilan Komunitas Makgradak berpose bersama pihak sekolah

Pada kesempatan tersebut, secara simbolis Komunitas Makgradak menyerahkan beasiswa kepada 5 siswa yang memenuhi kriteria. Setidaknya ada 3 hal yang harus dipenuhi oleh calon penerima beasiswa, yaitu: (1) berprestasi, (2) memiliki kemauan keras untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, dan (3) berlatar ekonomi kurang mampu. Berdasarkan kriteria tersebut, pihak sekolah merekomendasikan 5 siswanya, yaitu: (1) A. Sholihin, (2) Tri Aprilia Wulandari, (3) Alieffian Teguh Firmansyah, (4) Ardian Mada Saputra, dan (5) Wahid Hidayat. Kelima siswa kelas VI tersebut mendapatkan beasiswa untuk membantu meringankan biaya masuk sekolah ke jenjang SMP.

Menanggapi hal itu, wali kelas VI menyampaikan bahwa beasiswa bagi murid-murid masih sangat diperlukan. Berapa pun nilainya. Pembiayaan sekolah, harus diakui memang masih menjadi salah satu hal yang menjadi pertimbangan bagi warga untuk menyekolahkan putra-putri mereka.

Perwakilan Komunitas Makgradak (dari kiri: Ratih Setya Rahayu, S.S., Masyitotun Najah, A.Md., Angky Bayu Putrantyo, S.S., Febrie G. Setiaputra, dan Wahyu Tri Julianto, S.S.)

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Sekolah SDN Rowotamtu II Herwis Dihartono, S.Pd. berpendapat bahwa kemitraan antara sekolah dan lembaga yang peduli terhadap pendidikan sangat diperlukan. ”Seperti program komunitas ini. Mungkin ini baru terjadi di sekolah kami. Ini dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah yang lain. Harapan kami, tidak hanya sampai di sini. Artinya, agar terus diadakan. Di sekolah yang lain juga,” katanya.

Komunitas Makgradak dan pihak sekolah bersepakat akan bersama-sama memastikan para siswa, khususnya penerima beasiswa, dapat melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Karena, pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara yang harus ditunaikan demi tercapainya Indonesia yang bermartabat.•(fgs)

Marketing Sebagai Ilmu dan Seni

Marketing Sebagai Ilmu:

Marketing itu empiris

Bahasa Yunani emperia berarti pengalaman. Marketing tergantung pada pengalaman manusia, kemudian pengalaman direkam,didokumenkan, dan dokumen ini yang menjadi obyek yang diteliti untuk menemukan fakta. Dari fakta bisa diambil kesimpulan akan laku tidaknya sebuah produk.

Marketing itu mempunyai obyek

Obyek berasal dari bahasa latin objectus yang berarti yang di hadapan, sasaran, tujuan. Tanpa “tujuan” seorang marketing akan kehilangan “nyawa” untuk pemasaran sebuah produknya. Obyek marketing adalah end user (pelanggan).

Marketig itu mempunyai metode

Metode berasal dari bahasa Yunani methodos artinya cara. Untuk seorang marketing metode digunakan sebagai pengamatan, metode mengharuskan seorang marketing untuk berhati-hati, dengan metode marketing tidak boleh menarik kesimpulan yang terlalu berani. Seorang marketing harus tahu dan paham karekteristik produknya maupun obyeknya (pelanggan) karena keduanya ini saling gterkait satusama lain.

Marketing Sebagai Seni

Marketing memerulukan intuisi

Intuisi atau ilham yaitu pemahaman langsung dan insting. Apa yang harus dikerjakan setiap langkah memerlukan kepandaian marketing dalam memutuskan apa yang harus dilakukan. Dalam hal ini cara kerja marketing sama seperti seniman. Terkadangpun seorang marketing keluar dari pakem (guidance) namun tujuannya sama dengan guidance tersebut, yakni pemasaran.

Marketing memerulukan imajinasi

Seorang marketing harus dapat membayangkan apa yang sebelumnya, apa yang sedang terjadi, dan apa yang terjadi sesudahnya maka hal ini, imjinasi marketing dipakai agar ia dapat “hidup” dalam produk yang akan dia pasarkan.

Marketing memerulukan emosi

Seorang marketing diharapkan dapat menghadirkan obyeknya seolah-olah pembeli menikmati sendiri produk  itu dan pada akhirnya menarik emosi pembeli untuk membeli produk tersebut.

Marketing memerulukan gaya bahasa

Gaya bahasa yang baik, tidak berarti gaya bahasa yang penuh berbunga-bunga. Dalam mempresentasikan produk, deskripsi seperti melukis yang naturalistis. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk menyampaikan secara detil, terutama tentang sebuah produk.

Sekelumit tulisan ini hanyalah sebuah narasi dari proses perjalanan yang belum berujung dalam menjalankan peranku sebagai seorang marketing. Semua liku dalam proses ini tak akan menjadikanku terpaku untuk tidak berjibaku mengapai asa dan cita yang entah dan walaupun misteri harus tetap kukejar untuk jadikannya reality.

Firman Syahyudin

Short Trip ke Gunung Kidul

Bermula dari sebuah novel rekomendasi Bro Wahyu TJ alias Lombok Ijo berjudul Galaksi Kinanthi, saya mulai tertarik dengan wisata pantai di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta, karena dalam novel tersebut salah satu latar tempat adalah Gunung Kidul, Yogyakarta. Awalnya, sama seperti dalam bayangan saya selama ini, di dalam novel tersebut juga digambarkan panas, kering dan gersangnya Gunung Kidul yang menjadikan masyarakatnya hidup dalam keterbatasan (baca: kemiskinan). Namun, di bagian akhir novel, di beberapa lembar halaman sebelum halaman sampul belakang, ada foto-foto cantik pantai-pantai yang ada di Gunung Kidul, yaitu Pantai Kukup, Krakal, Baron, Drini dan lain sebagainya. Dari sinilah keinginan untuk berpelesir ke Gunung Kidul muncul.

Bertanya pada teman yang tinggal di Yogyakarta, mencari informasi di google dan bertanya juga pada teman yang sudah pernah ke sana menjadi referensi kami untuk berkunjung ke sana suatu saat nanti. Tibalah pada awal November 2012, suami tiba-tiba mengajak short trip ke Gunung Kidul saat weekend tanpa menginap, karena saya tidak mungkin izin lagi dari kantor lagi karena baru 2 bulan sebelumnya saya izin tiga hari untuk ke Bali bersama suami. Kali pertama pergi ‘mbolang’ dalam artian tanpa Event Organiser yang mengatur jadwal liburan kami, praktis efisiensi waktu dan biaya ada di tangan kami sendiri. Dengan bis jurusan Sby-YK kami naik dari Jombang jam 12 malam dengan estimasi sampai YK sebelum subuh. Sebelum berangkat kami sudah mengontak teman yang siap membantu pinjam rental motor untuk ke Gunung Kidul dari terminal Giwangan. Untuk weekend tidak disarankan naik mobil karena pasti macet, jd karena cuma berdua juga motor menjadi pilihan yang lebih baik. Via online kami juga sudah memesan paket wisata caving+river tubing pada Karang Taruna yang mengelolanya di Gua Pindul – Gunung Kidul, tour guide siap menjemput kami di alun-alun Wonogiri saat tiba nanti.

Sampai terminal giwangan jam 5 pagi, teman dari Yogyakarta sudah siap dengan motor Supra X 125 lengkap dengan 2 helm teropong SNI J Berbekal petunjuk singkat tentang arah alun-alun Wonogiri dari mbak Yuli dan google map, dimulailah perjalanan kami menuju Gunung Kidul. Kurang lebih 1 jam perjalanan kami mulai memasuki kab. Wonogiri dan bertemulah kami dengan mas Budi, tour guide kami selama river tubing nanti.

100_7100

Setelah selesai river tubing kami segera bersih diri dan bersiap berangkat ke pantai-pantai di Gunung Kidul. Dari mbak Yuli dan juga mas Budi, kami disarankan untuk ke pantai Indrayanti yang masih relative baru pada waktu itu, kata mereka pantainya paling bagus karena batu karang di tepi pantai besar-besar seperti di Belitong, yang terlihat di film Laskar Pelangi. Sekitar satu jam perjalanan dari Gua Pindul ke pantai, sampailah kami di gerbang masuk pantai. Hanya dengan tiket lima ribu rupiah per orang kami masuk ke parkiran pantai Baron yang terdapat pelelangan ikan serta pasar tradisional makanan khas pantai di dalamnya.

100_7030Puas menikmati keramaiaan Pantai Baron, kami berpindah ke Pantai Kukup yang terletak di sebelah pantai Baron. Untungnya kami menggunakan motor sehingga berpindah dari satu pantai ke pantai yang lain tidak memakan waktu lama, bebas macet dan bisa lewat jalan2 kecil depan rumahh penduduk. Kami berpindah ke pantai Kukup yang konon mirip Pantai Tanah Lot di Bali atau Balekambang di Malang karena ada bangunan yang berada di atas laut.

100_7018

Sudah cukup berfoto dan menikmati kuliner jajanan pantai di Pantai Kukup kami berpindah ke Pantai Krakal. Dengan es degan ijo yang segar dan view pantai yang sungguh berbeda dengan dua pantai sebelumnya kami sangat-sangat menikmati pemandangan di pantai Krakal, karena di sela-sela batu karang tepi pantai, ditumbuhi lumut hijau nan segar di mata, kesan pantai itu panas pupus sudah, bahkan banyak ikan yang bisa ‘diserok’ di antara karang-karang tersebut. Di belakang kedai tempat kami minum es degan ada beberapa penginapan dengan tariff hotel melati yang murah meriah, oneday kami bakal balik ke sini untuk menginap dan menikmati pagi hari di pantai Krakal yang sejuk dan indah ini.

100_7073

Menuju pantai berikutnya/sebelahnya ternyata waktu tidak memungkinkan karena sudah sore hari padahal kami belum sholat ashar, akhirnya kami hanya melewati penunjuk arah ke Pantai Siung, Pantai Drini dan beberapa pantai lainnya untuk langsung menuju ke Pantai Indrayanti. Benar kata mas Budi dan mbak Yuli, Pantai Indrayanti punya karang-karang yang besar mirip seperti di Belitong, tapi ramainya membuat keindahannya berkurang J Pasirnya putih dan bersih dibanding dengan pantai Baron/Kukup, tetapi bagi kami Pantai Krakal tetap menjadi favorit kami dari semua pantai yang sudah kami kunjungi.

100_7108

Menjelang maghrib kami turun dari Gunung Kidul menuju Bukit Bintang untuk makan malam, karena  ramai pengunjung hari itu, pemilik warung sampai kehabisan nasi sehingga kami harus menunggu beliau memasak nasi terlebih dahulu J padahal lapar sudah tak terkira perut kami meski selama di pantai tadi kami jajan terus, maklum orang Jawa, belum makan kalau belum nasi, hehe. Sekitar jam delapan malam kami sampai kembali di Terminal Giwangan dan bertemu dengan mbak Yuli untuk serah terima motor dan naik bis menuju ke Jombang.

Elok Wardania

Arti Sebuah Persahabatan…

Kepompong

persahabatan bagai kepompong

mengubah ulat menjadi kupu-kupu

persahabatan bagai kepompong

hal yang tak mudah berubah jadi indah

 persahabatan bagai kepompong

maklumi teman hadapi perbedaan

persahabatan bagai kepompong

Lagu sindentosca-kepompong ini kembali mengingatkan kita pada sebuah arti dari persahabatan. Kalo bicara persahabatan tentu teman-teman pasti punya sahabat sejati. Bagiku sahabat adalah segalanya dan sahabat pasti selalu ada untuk kita walau tak selalu hadir nyata wujudnya. Analoginya sahabat itu ibarat bintang selalu ada walau tak tampak. Teman belum tentu jadi sahabat, tapi sahabat bisa jadi teman.

Pertemuan teman menjadi sahabat pun mempunyai siklus yang unik. Layaknya mencari pasangan hidup bagi sebuah ruman tangga. Harus nyaman, bisa klik, nyambung, sebagai penyimpan rahasia, pemberi solusi, saling bertukar pikiran dan sabagai penyemangat juga. Ini bukan sebagai sebuah kreteria yang harus ada pada sahabat tapi paling tidak mendekati sebagaian saja.

Mendeskripsikan sahabat ternyata susah, bingung mau ditulis darimana. Satu yang pasti sahabat adalah bagian dari keluarga walaupun tidak dari darah keturunan yang sama. Sahabatku adalah Keluarga Besar Makgradak, antara lain: Febrie G Setiaputra, Angky Bayu P, Elok Wardaniyah, Cindy Hayu F, Masyitotun Najah/Mita, dan Diah Bloder (maaf tidak ada foto).

Mereka dulunya adalah teman-teman di fakultas sastra yang menjelma sebagai sahabat dalam kehidupanku. Walau kadang ada kalanya menjauh entah kemana. Namun karena ikatan sahabat kita pun kembali bertemu dalam satu misi yang sama.

Ah, susah manggambarkan kalian sahabatku. Terlalu banyak cerita yang menghiasi kebersamaan kita dahulu. Ada suka, duka, galau, benci tapi rindu itu mungkin yang bisa menggambarkan persahabatan ini.

Selepas lulus perkuliahan dan bergulat pada aktivitas masing-masing komunikasi sempat terhambat. Tapi tidak menghilangkan perasaan yang sudah ada, masih ada ikatan walau sudah tidak erat. Tetap membicarakan kalian dalam koridor yang positif, membanggakan kalian pada teman-taman yang lain. Memantau perkembangan kalian lewat cerita teman dan media sosial, semu ikatan itu tapi tidak mampu untuk melupakannya.

Tentang kalian akan kuceritakan pada anak-anak ku nantinya. Bahwa ayah dahulu punya sahabat-sahabat yang terbaik, yang gokil, yang pintar, yang unik, yang lucu, yang melanglang buana ke semua Indonesia, yang pembaca semua buku, yang guru gaul, yang ibu carik, yang ibu petualang, yang peduli sosial, yang bingung dengan jodohnya, yang betah jomblo di usia 32 tahun, dan yang yang lain.

Sudah hampir larut dan aku bingung semakin bingung menceritakan sosok kalian sahabat. Ku sudahi saja tulisan ini, tak perlu panjang-panjang untuk menceritakan kalian. Kalau sahabat mau menambahkan silahkan, sekalian tulisan ini dibuat panjang akan menarik tentunya karena ada tulisan berbeda dari sudut pandang yang kompleks.

Dan akhirnya ku bertanya APA ARTI SAHABAT BAGI KALIAN?

Malang F1,pukul 21:47 tgl 13 Oktober 2014..

Terima kasih sahabat, kalian keluarga bagiku….

Wahyu Tri Julianto

…*

Inginku berteriak, tapi buat apa?
Inginku berlari, tapi mau kemana?
Inginku memaki, tapi itu bukan solusi.

Mencari jejak yang hanya buatku sakit dan mati
Mati hati ini
Mati jiwa ini
Sakit hati ini….

Manusia hanyalah manusia
Yang tak puas dengan seribu nikmat
mencari sejuta nikmat

Manusia hanyalah manusia
Yang tak puas dengan sejuta nikmat
Mencari semilyar nikmat

Apa yang kau cari?
Apa yang engkau kejar?
Apa yang engkau inginkan?

Belum cukupkah tangis yg pernah kaubuat?
Belum cukupkah hati yang pernah kau robek, kau hancurkan, hinggaku harus tertatih mengumpulkan, menyulamnya menjadi utuh kembali
Belum cukupkah harga diri yg sdh pernah kauludahi

Manusia hanyalah manusia
Masihkah kau punya hati?
Masihkah kau punya nyali, akan janji suci

Dan aku hanyalah wanita
Yang hanya punya sajalah dan cinta

Allah….
Hanya kepadaMu cinta sejatiku
Hanya kepadaMu janji suciku

Membalut hati dengan ucapan syukur kepadaMu Yaa Robb
Menjernihkan hati dengan bersodaqoh di jalanMu
Memalingkan rasa sakit ini pada sujudMu
Menjeritkan lara ini disetiap sujudku

Bukan nikmat dunia yang kucari, Gusti….
Bukan nikmat dunia yang kucari, Gusti….
Bukan nikmat dunia yang kucari, Gusti….

Selamatkan aku, Allahku….

 

Ratih Setyo Rahayu

Problematika Pendidikan; Quo Vadis Sekolah Ramah Anak di Papua

Sebuah Pengantar

Membahas persoalan pendidikan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari lembaga yang bernama sekolah apapun bentuknya. Pada perkembangannya, sekolah mengalami perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik dengan program-program pendukung salah satunya kebijakan mengenai Sekolah Ramah Anak. Diakui atau tidak, sekolah turut menyumbangkan andil dalam proses pembentukan karakter dan mendorong tumbuh kembang kesejahteraan anak di kemudian hari. Terlepas dari rangkaian proses di sekolah, dasar yang paling fundamental adalah peran dari orang tua dan lingkungan dalam membentuk karakter anak. Peduli terhadap pendidikan anak, bukan untuk memaksakan cita-cita orang tua melalui anak tentunya, namun turut serta mendukung anak untuk mau belajar karena belajar adalah satu-satunya proses kehidupan yang tidak pernah selesai.

Sebuah konsep ideal tentang pendidikan di atas nampaknya belum bisa berlaku di wilayah Indonesia Timur, termasuk di Papua misalnya. Meski tidak di seluruh wilayah, namun sebagian besar masyarakat di Papua masih tidak peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Seolah terjadi proses pembiaran dari orang tua dan lingkungan dalam proses pendidikan anak. Orang tua nampaknya terlalu apatis dalam menyikapi sebuah proses belajar di sekolah. Di level sekolah dasar, kebanyakan orang tua murid di Papua hanya beranggapan bahwa sekolah adalah sebuah proses kebiasaan belaka, tanpa melihat tujuan dari proses bersekolah itu sendiri.

Dampak dari kekeliruan pemahaman mereka terhadap sekolah ini, banyak siswa sekolah dasar yang sebenarnya belum layak naik kelas dipaksa untuk naik kelas atau diluluskan ke jenjang kelas berikutnya. Padahal, sangat terlihat jelas, mereka belum bisa membaca dan menulis kemudian dan dinyatakan lulus dan masuk ke Sekolah Menengah Lanjutan (SMP). Ironisnya, apabila sekolah menyatakan murid tersebut tidak naik atau tidak lulus, maka orang tua siswa akan protes dan datang ke sekolah. Tidak sedikit diantara mereka yang melakukan tindakan di luar batas seperti merusak fasilitas sekolah, menutup paksa sekolah, mengancam guru atau kepala sekolah, dan bahkan sampai melakukan pemukulan.

Seakan demi mendukung kondisi tersebut, tenaga pengajar yang ada ternyata hanya unggul di sisi pengalaman mengajar namun tidak memiliki inovasi-inovasi baru dalam mengajar. Tidak sedikit pula tenaga pengajar yang ada datang ke sekolah sebagai wujud gugur kewajiban saja. Kondisi murid yang malas ke sekolah, orang tua yang tidak peduli, tenaga pengajar yang berbatas inovasi serta di bawah tekanan orang tua murid menjadikan permasalahan menjadi kompleks. Dari kondisi tersebut di atas tidak mengherankan jika kemudian sekolah hanya dianggap sebagai sebuah tempat singgah menghabiskan waktu luang yang tersisa untuk sekedar bersuka ria selagi berusia muda.

 

Sekolah Ramah Anak: Antara Harapan dan Realita

Sekolah ramah anak merupakan program yang dicanangkan berdasarkan UUD 1945 pasal 28 ayat 2 dan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Meskipun program ini belum memiliki payung undang-undang dari kebijakan pendidikan, namun konsep ideal di dalamnya cukup memberikan cita-cita untuk membangun sebuah tatanan pendidikan yang sangat ideal. Program ini bertujuan untuk membangun lingkungan belajar dimana anak termotivasi dan mampu untuk belajar dengan kondisi lingkungan sekolah yang ramah, terbuka terhadap kebutuhan kesehatan dan keamanan siswa.

Sekolah ramah anak dikonsepkan untuk memastikan: setiap anak secara inklusif dalam lingkungan yang aman secara fisik, melindungi secara emosional, dan mendukung secara psikologis; guru menjadi faktor utama dalam menciptakan kelas yang inklusif dan efektif; sekolah ramah anak mendukung, memfokuskan dan memfasilitasi kemampuan anak untuk berkembang secara bertahap; kemampuan sekolah untuk menjadi sekolah ramah anak sangat berkorelasi dengan dukungan, partisipasi dan kerjasama yang diperoleh dari keluarga.

Rangkaian konsep di atas, seharusnya menjadi sebuah dasar untuk melahirkan kesadaran kolektif tentang arti penting menciptakan sebuah iklim perubahan masyarakat menuju kesejahteraan lahir dan batin. Sebab masyarakat juga tidak bisa dilepaskan begitu saja sebagai salah satu penyedia lingkungan yang nyaman, baik di sekolah maupun di lingkungan sehari-hari.

Dengan terciptanya lingkungan yang nyaman dan aman dari kekerasan, akan lahir lingkungan yang nyaman secara akademis, nyaman secara emosional, dan nyaman berperilaku. Kondisi ini tentunya perlu mendapat dukungan kedisiplinan dari guru, peserta didik dan masyarakat yang perlu dibudidayakan.

Idealnya, melalui kedisiplinan positif yang dibudidayakan oleh pihak sekolah dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, berdampak meningkatnya kepercayaan diri anak sebagai orang yang layak dihargai. Namun pada kenyataan di lapangan, khususnya di wilayah Papua, sikap disiplin yang diterapkan oleh pihak sekolah disalahartikan sebagai tindakan kekerasan oleh masyarakat yang notabene juga tidak peduli dengan pendidikan anaknya.

Bentuk ramah pada anak yang seyogyanya mencegah semua bentuk kekerasan terhadap anak, pada kenyataannya menjadi salah arti di Papua. Sikap ramah terhadap anak (peserta didik) dianggap sebagai bentuk sikap “santai” yang kemudian disepelekan oleh peserta didik dan orang tua siswa. Kondisi menyepelekan dan ketidakpedulian terhadap proses pendidikan ini menjadi sebuah padu-padan yang menjadikan kondisi pendidikan di sebagian besar wilayah Papua semakin kompleks.

Sekolah ramah anak yang diharapkan dapat menciptakan sebuah suasana belajar yang nyaman pada kenyataan menciptakan sebuah siklus yang makin melemahkan peran pendidikan. Rangkaian siklusnya dapat di gambarkan demikian. Tenaga pendidik yang mencoba membangun iklim kondusif dengan bersikap ramah menjadikan peserta didik menyepelekan pendidikan dengan jalan tidak masuk sekolah atau bahkan berkurangnya rasa hormat kepada tenaga pendidik. Ketidakdisiplinan siswa ini dibarengi dengan ketidakpedulian orang tua, sehingga tidak jarang guru enggan hadir ke sekolah karena berhari-hari tidak ada siswa yang hadir.

Akhir dari rangkaian siklus ini, hasil dari proses belajar mengajar dipastikan akan menjadi tidak maksimal dan hanya menciptakan sebuah generasi yang hanya pernah bersuka ria menghabiskan waktu di sekolah semata. Menurut pengamat pendidikan dari Universitas Udayana, Prof. Dr. Felisianus, program sekolah ramah anak perlu memperhatikan karakteristik anak dan kearifan lokal wilayah. Karakter masyarakat di Indonesia Timur khususnya wilayah Papua, perlu mendapatkan sentuhan yang cenderung lebih tinggi dalam tingkat kedisiplinannya sesuai karakteristik wilayahnya. Hal ini guna menghasilkan sebuah generasi yang memiliki kemampuan dan berdayaguna serta dapat bersaing dengan generasi wilayah lain yang masih sama-sama tinggal di Indonesia. Oleh karena itu, perlu adanya tinjauan kembali atau semacam program evaluasi mengenai kebijakan sekolah ramah anak.

 

Angky Bayu Putrantyo

Merawat Ingatan tentang Mbah Kakung

Data Buku

Mbah, Irma janji, suatu saat kelak Irma akan menuliskan cerita tentang Mbah Kakung…”. Begitulah janji Irma Devita kepada Rukmini, neneknya. Meskipun waktu itu, dia tak tahu caranya. Dia masih belia. Tapi, tujuannya mulia. Irma berharap bahwa dengannya perjuangan kakeknya, mbah kakung-nya dalam bahasa Jawa, dapat dikenang. Generasi kini dan mendatang beroleh warisan keteladanan.

Rupanya Irma tak lupa. Novel Sang Patriot adalah wujud pemenuhan atas janjinya itu. Menurut pengakuannya, novel tersebut ditulis berdasarkan kisah nyata dan telah melalui riset yang cukup panjang (hlm. ix). Irma tak menjelaskan lebih lanjut. Tetapi beruntung, istri kawan saya, R.Z. Hakim, membuka cerita. Sebelum menulis novel, Irma telah menelusuri data-data lama dan mewawancarai banyak orang. Di antaranya, Lettu Suroso, dr. Halim Danuatmodjo, Letjen Purbo S. Suwondo, dan Mayjen (Purn) Suhario Padmowirjono. Masih banyak yang belum dia sebut.

Irma sengaja menuliskan cerita kepahlawanan kakeknya, Letkol. Mochammad Sroedji, dalam bentuk novel. Sebuah pilihan jitu, saya kira. Novel lebih menjanjikan keluwesan bertutur dibandingkan disiplin sejarah. Jauh dari kesan berat karena sarat angka dan fakta. Selain itu, dewasa ini novel sejarah kembali mendapatkan tempatnya di dunia sastra. Banyak yang meminatinya.

Dalam novel Sang Patriot ini, Irma Devita berhasil secara lugas dan juga ringan menceritakan sisi-sisi lain perang kemerdekaan Indonesia pada 1942-1949. Dia membagi novel yang terdiri atas 252 halaman pokok ini menjadi 24 Bab. Beberapa bab dia bagi lagi dalam beberapa subbab. Menariknya, sebagian besar judul subbab tersebut berupa keterangan tempat dan waktu. Misalnya, Kampung Kauman, Gurah – Kediri, 1923 (hlm. 3) dan Karang Kedawung, 8 Februari 1949 (hlm. 233).

Judul berangka tahun itu segera membuat saya menduga bahwa novel ini ditulis menggunakan alur maju. Urut sesuai pembabakan waktu. Nyatanya, saya salah. Novel ini menggunakan alur campuran. Prolognya bertutur tentang jasad Sroedji yang terbujur kaku. Itu terjadi pada Februari 1949. Lalu, pembaca diajak mundur ke tahun 1923. Di Kauman, Gurah, Kediri, tepatnya. Tempat Hasan dan Amni, orang tua Sroedji, hidup setelah meninggalkan Bangkalan, Madura. Saat itu, Sroedji sekira 8 tahun umurnya.

Selanjutnya, Irma menceritakan soal Sroedji yang semangat sekolah. Boleh dibilang terlalu semangat malah. Kesan ini menguat karena Irma sampai berulang kali menyebutnya. Setidaknya di halaman 10, 11, 12, dan 14. Dan Sroedji memang akhirnya berhasil mengenyam pendidikan di sekolah berbahasa pengantar Belanda. Hingga kemudian, Sroedji berhasil lulus dan menjabat sebagai mantri malaria di RSU Kreongan. Sroedji kemudian menikahi Rukmini, putri priayi, dan mempunyai putra dan putri.

Saat Jepang membentuk PETA, Sroedji dan kebanyakan mantan anggota Hizbul Wathan, gerakan kepanduan Muhammadiyah, bergabung. Mereka menjadi perwira terlatih. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, Sroedji dan perwira-perwira lain segera bergabung menjadi tentara republik dan gencar bergerilya. Badan Keamanan Rakyat (BKR), namanya. Cikal bakal TNI sekarang.

Pada aras ini, Irma berhasil menggambarkan perang secara detail. Pembaca dibuat hanyut dengan kepiawaiannya bertutur. Cerita memang belum usai. Dikisahkan, Sroedji dan pasukannya memenangkan pertempuran demi pertempuran. Irma mengisahkan juga soal pertempuran di Surabaya pada November 1945 dan tragedi gerbong maut.

Kemenangan pasukan Sroedji disebabkan setidaknya oleh kepemimpinan Sroedji dan semangat juang pasukan. Sroedji selalu dapat menyemangati pasukannya. Ia tak menampilkan diri sebagai pemimpin yang gila hormat. Ia hadir di tengah pasukan. Ia duduk bersama para prajurit, mendengar keluh mereka, lalu menyuntikkan semangat untuk menang (misal, hlm. 210). Tak ada kesan eksklusif. Biasa saja. Saat sakit pun, Sroedji berkeras untuk memimpin pasukan (hlm. 220-224). Ia berada di garis depan. Pada aras ini, mestinya pemimpin, juga semua saja, dapat berkaca.

Tapi, mata-mata. Ya, mata-mata. Dari bangsa sendiri pula. Irma beberapa kali menyinggungnya. Di antaranya di halaman 161-163, 196-197, 210, dan 251. Itu yang membuat Sroedji, Komandan Brigade III Devisi I, dan pasukan elitnya terjebak. Ia dan sahabatnya, Letkol. dr. R.M. Soebandi, juga hampir seluruh pasukannya gugur dalam pertempuran di Karang Kedawung pada 8 Februari 1949.

Saya tak mengira, sesekali Irma masih dapat menyisipkan bahasa puitis, nyastra. Baca di halaman 104 sebagai contohnya. Irma membuka cerita dengan: “Kodok riuh memperdengarkan nyanyian, saling bersahutan seolah merayakan pesta kemenangan. Anak jangkrik dan induknya tidak kalah seru menimpali senja yang syahdu.” Ini tentu menggugurkan anggapan sebagian orang bahwa memasukkan unsur realitas ke dalam karya sastra menjadikan karya tersebut kering. Saya setuju dengan Pramoedya Ananta Toer, salah satu pengusung realisme sosial dalam sastra. Menurutnya, keindahan karya sastra bukan terletak pada kemampuan pengarang dalam mengutakatik bahasa, melainkan aspek kemanusiaannya.

Irma juga pandai mengaduk-aduk emosi pembaca. Beberapa bagian dalam novelnya ini bahkan mampu membuat mata berembun. Misalnya, saat Rukmini membohongi putranya yang sakit dan ingin makan nasi putih. Juga saat Rukmini menyaksikan sendiri pusara suaminya (hlm. 250).

Dan, seperti telah saya sampaikan, dalam novel ini, Irma tak hanya menyuguhkan detail perang. Sisi lain perang dia tulis secara sangat apik. Saya menyebut sisi lain perang untuk semua hal kecuali perang itu sendiri. Novel ini kaya nilai, atau setidaknya informasi, tentang peradaban, perjuangan, persahabatan, kesetiaan, keberagamaan, nasionalisme, dan juga percintaan. Masing-masing sebenarnya menarik untuk dikaji lebih lanjut, seperti dalam novel-novel sejarah karya pendahulunya: Pramoedya Ananta Toer, Y.B. Mangunwijaya, dan Remy Sylado.

Soal gender, misalnya. Oleh Irma, pembaca novel ini diajak memahami situasi saat itu dengan cerita soal ketakmampuan Rukmini melawan budaya. Perempuan tak perlu sekolah tinggi. Toh dia hanya ada di ruang privat; kasur, sumur, dan dapur; bukan publik. Perempuan yang terlalu pintar akan menakutkan bagi suami. Perempuan macam ini dikhawatirkan sulit jodoh dan karenanya mempermalukan orang tua. Maka, cita-cita Rukmini untuk meraih gelar sarjana hukum pun harus kandas. “Sayang sekali dia perempuan. … Seandainya dia laki-laki, tentunya akan kusekolahkan setinggi mungkin,” sesal bapak Rukmini. Bagaimana lagi, ia juga tak kuasa menghadapi budaya (hlm. 23, 26-27).

Tetapi, perempuan mestinya memang harus pintar. Berikutnya, hubungan suami-istri bukan berdasar relasi kuasa, melainkan kesetaraan. Perempuan yang pintar dan terdidik menentukan sintasitas keluarga dalam menghadapi hidup yang tak tentu. Soal itu disampaikan Irma melalui cerita kecerdasan Rukmini. Sebagai istri, Rukmini adalah teman diskusi suaminya. Dalam kondisi serbasulit, dialah yang justru memiliki peran dominan. Sroedji yang tengah berjuang tak dapat selalu mendampinginya. Beberapa kali Rukmini terpaksa menjual perabot dan kainnya. Pada tahun-tahun sebelum masa sulit, Rukmini memang telah berpikir bahwa kain pun dapat bernilai investasi. Tentu saja dengan motif tertentu (hlm. 24-25).

Sisi religiositas dalam novel ini juga tak kalah menarik. Irma berkisah bahwa Sroedji, Rukmini, juga bapak-ibu mereka adalah penganut Islam yang taat. Rukmini rajin mendoa. Sroedji juga. Bahkan dalam keadaan perang, Sroedji tak lupa salat (hlm. 219). Tentang Sroedji, orang tuanya memang telah memberikan dasar keagamaan yang cukup. Semasa kecil, Sroedji belajar mengaji kepada Kiai Dullah, pemuka agama lulusan Perguruan Muhammadiyah asuhan K.H. Ahmad Dahlan.

Dari Kiai Dullah pula, Sroedji belajar soal perjuangan dan cinta tanah air. Kiai Dullah selalu menanamkan nilai-nilai itu melalui cerita tentang Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Agung, Umar bin Khattab, dan lainnya. Ini mengingatkan kita kepada peran Kiai Mojo dalam Perang Diponegoro. Dan berhasil. Sroedji terinspirasi. Dalam permainan perang-perangan, Sroedji kecil selalu memerankan Diponegoro. “Dor! Dor! Kena! Mati kamu Belanda!” teriaknya (hlm. 5-6). Sikap antipenjajahan, semangat juang, dan jiwa kepemimpinan ini terbawa hingga Sroedji dewasa.

Semangat antipenjajahan juga memengaruhi sikapnya dalam hal berbahasa. Sroedji berpesan kepada istrinya agar semua putra-putri mereka tak menggunakan bahasa Belanda. Kata Sroedji, “Kita hidup di tanah Jawa, Bu … Anak kita harus diajari bicara bahasa Jawa untuk komunikasi sehari-hari, bukan bahasa penjajah, dan bukan juga bahasa Madura… (hlm. 35)“

Mungkin karena itu, dalam novel ini banyak dialog berbahasa Jawa. Hanya ada satu dialog berbahasa Madura, saat Rukmini menolak menikah, dan itu pun kurang tepat. Disampaikan oleh Rukmini, “Nyoon saporah, Pak. Delem ta poron abineh… (hlm. 26)” Abineh berarti beristri. Mestinya, tokoh Rukmini dalam novel ini menggunakan kata a lakeh atau lebih tepat lagi a rakah dalam kalimat penolakannya itu.

Saat menceritakan perlawanan Rukmini yang dikira Cina oleh teman-temannya, sebenarnya Irma dapat menggunakan dialog berbahasa Madura (hlm. 129). Toh, di halaman berikutnya, Irma menjelaskan bahwa teman-teman dibuat yakin bahwa Rukmini bukanlah Cina seperti sangkaan mereka setelah Rukmini membentak mereka menggunakan bahasa Madura dengan dialek lokal yang kental. Mungkin saja, Irma lebih menguasai bahasa Jawa daripada bahasa Madura.

Namun, dalam dialog berbahasa Jawa, ada salah tulis sedikit. Pertama, kerancuan dalam menulis d dan dh. Soebandi selalu dipanggil Ndhi atau Bandhi (misalnya, hlm. 89), kecuali di halaman 220. Kudu tertulis khudhu (hlm. 79). Kedua, penulisan a dan o juga banyak tertukar. Misalnya, masak dijarna ae tertulis mosok dijarno ae (hlm. 75). Dalam bahasa Jawa, a dan o harus tepat penggunaannya. Salah-salah bisa berbeda makna. Contoh, lara (sakit) dan loro (dua). Pelafalan a seperti o dalam kata topi, sedangkan o sendiri dilafalkan seperti menyebut kata bola. Tapi, ini hampir merupakan kesalahan umum, saya kira. Bukan hanya Irma.

Selain soal itu, salah ketik, salah ejaan, lompatan narasi, salah logika, dan salah kata adalah beberapa kekurangan lain dalam novel ini. Banyak kata yang seharusnya diawali huruf kapital terketik huruf kecil dan sebaliknya. Contoh, Desa Pakisaji tertulis desa Pakisaji (hlm. 140). Di sebagai awalan yang seharusnya ditulis serangkai justru ditemukan terpisah dari kata dasarnya. Contoh, di ikuti, di pimpinnya, dan di minumkan di halaman 141. Seharusnya ditulis: diikuti, dipimpinnya, dan diminumkan. Tradisional masih tertulis tradisionil (hlm. 141). Jenderal tertulis jendral (misalnya, hlm. 5, 41, 45, dan 137). Kiai juga tertulis kyai (misalnya, hlm. 139).

Salah kata terdapat di halaman 18. Tertulis, “Kapal berlabuh pelan meninggalkan pelabuhan di iringi (sic) dengan lambaian para pengantar.” Berlabuh secara leksikal berarti berhenti atau menurunkan sauh. Agar tepat, kata berlabuh dalam kalimat itu dapat diganti dengan berlayar.

Kesalahan lain dalam novel ini tercermin dalam cerita ketepatan analisis Sroedji mengenai lokalisasi pasukan republik melalui Perjanjian Renville (hlm. 134). Namun selanjutnya, melalui monolog dalam hati, tokoh Sroedji menyampaikan bahwa itu adalah buah pikir Rukmini (hlm. 154). Ini mirip dengan salah sebut lainnya. Dikisahkan bahwa Sroedji masuk Kompi 1 Chuudancho yang dipimpin oleh Lettu Nomura Shohichi yang juga merangkap sebagai pelatih (hlm. 49). Masih di paragraf yang sama, tiba-tiba disebutkan bahwa Sroedji selalu menyimak dan melaksanakan instruksi Si Kopral pelatihnya. Besar kemungkinan, yang Irma maksud dengan Si Kopral adalah Kopral Nishikawa (hlm. 52).

Soal lain, disebutkan bahwa Desa Pakisaji adalah bagian dari Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang (hlm. 140). Kondisi geografis saat ini, Pakisaji adalah kecamatan tersendiri yang memang berbatasan dengan Kepanjen. Ampelgading yang juga disebut sebagai kampung di novel ini (hlm. 190), sekarang adalah nama kecamatan di wilayah Malang Selatan. Maka, secara administratif, Desa Pakisaji dan Kampung Ampelgading pada periode yang diceritakan dalam novel ini perlu dicek kembali.

Salah ketik terdapat di beberapa halaman. Kangean terketik Kagean (hlm. 14). Tahu terketik tau (hlm. 18). Satu per satu terketik sat per satu (hlm. 56). Juga soal kepangkatan. Tertulis, “Brigadir Mayor Imam Sukarto mengambil alih kemudi Brigade Damarwulan (hlm. 251)”. Mungkin yang dimaksud adalah Mayor Imam Sukarto. Sebelumnya ia memimpin brigade yang diberi nama Brigade Mayor Imam Sukarto, bagian dari Brigade Damarwulan. Berdasarkan pelbagai sumber, tak ada pangkat brigadir mayor dalam sejarah TNI.

Catatan terakhir saya soal salah ketik, ada kesalahan atas syair lagu Di Timur Matahari karya W.R. Soepratman. Terketik seluruh pemuda Indonesia. Seingat saya, yang benar adalah pemuda pemudi Indonesia. Entahlah, saya tak punya teks asli lagu yang kabarnya digubah pada 1931 ini. Yang pasti, saya agak meragukan tentang arak-arakan warga pengiring jenazah Sroedji yang serentak menyanyikan lagu tersebut tanpa dikomando. Keraguan saya bisa saja tak terbukti benar. Tapi ada dugaan lain, itu hanyalah alegori yang dibuat oleh Irma. Saya tak tahu.

Ya, novel ini masih memiliki kekurangan. Tetapi bukan berarti novel ini tidak menarik dan tak penting dibaca. Kekurangan-kekurangan itu tak sampai mengganggu keutuhan kisah apalagi mengurangi keterpukauan pembacanya. Seperti kata Arief Budiwidayanto, “Novel yang bagus. Alurnya yang lancar membuat orang ingin terus membaca. … Salut! Jempol buat Irma.” Pujian itu sungguh tak berlebihan.

Novel Sang Patriot ini oleh Irma didedikasikan untuk Rukmini, neneknya yang mulia dan berhati sekeras baja (hlm. v). Demi mengabadikan kisah mbah kakung-nya, Letkol. Mochammad Sroedji, dan patriot lainnya. Juga demi menunaikan janji masa kecilnya kepada Sang Nenek. Dan saya pikir, dua hal itu telah dicapai oleh Irma secara paripurna.•

 

Banner

‘Artikel ini disertakan dalam lomba review novel Sang Patriot‘

 

@febrie untuk Lomba Review Novel Sang Patriot